by

Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah

Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terjadi korupsi.

SUARAJABARSATU.COM | Profesor Kiai Haji Abdul Kahar Muzakkir adalah tokoh intelektual Indonesia yang berlatar belakang organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah. Lahir dari keluarga pedagang di Kotagede, Yogyakarta, beberapa sumber mengatakan, dia lahir pada 1907. Buku Muhammadiyah, 100 Tahun Menyinari Negeri (2013) mencatat bahwa dia adalah putra Haji Muzakkir, seorang pedagang di Kotagede.

Liputan khusus Majalah Gatra, 25 Agustus 2012, menulis lebih lengkap. Abdul Kahar adalah salah satu anak laki-laki dari Muzakkir, seorang pedagang ternama Kotagede. Kakek Abdul Kahar bernama Haji Masyhudi yang merupakan salah seorang perintis pendirian Muhammadiyah di Kotagede pada awal pendiriannya di tahun 20-an.

Konon, kakek Abdul Kahar masih terhitung cicit dari Kiai Kasan Besari, yang diceritakan dalam sejarah pernah menjadi salah seorang komandan laskar Pangeran Diponegoro di zaman Perang Jawa. Dari garis Kiai Kasan Besari inilah jejak Tarekat Syattariyah menjadi salah satu unsur penting  dalam garis leluhur Abdul Kahar yang terbukti sangat membantu dia di masa-masa penting dalam hidupnya.

Artikel Majalah Gatra yang ditulis Arief Koes Hernawan, sepertinya sedikit mempunyai kekeliruan dalam menyebut tarekat Kiai Kasan Besari. Di sana tertulis “Tarikat Sabariyah” padahal Kiai Kasan Besari dalam studi Peter Carey di buku riwayat Pangeran Diponegoro yang berjudul Kuasa Ramalan (2012), termasuk salah satu dari jaringan ulama yang disinggahinya saat bergerilya. Seperti telah banyak diketahui lingkungan yang mempengaruhi pemahaman agama Pangeran Diponegoro adalah lingkungan Tarikat Syattariyah yang bersumber dari nenek buyutnya, Kanjeng Ratu Ageng, permaisuri Hamengkubuwono I.

Kesederhanaan Seorang Pejuang

Banyak riwayat para pendiri republik ini merupakan orang-orang yang teguh berjuang tanpa pamrih. Salah satunya tampak dari peninggalan Abdul Kahar di Kotagede. Saat wartawan Gatra mengunjungi sebuah rumah  di sekitar Selokraman, Kotagede, yang tampak hanya sebuah rumah kosong yang tidak beda dengan rumah lainnya. Bentuknya limas seperti bangunan tua lainnya.

Menurut keluarga Abdul Kahar, rumah itu dibangun pada 1937. Tahun itu adalah tahun kedatangan Abdul Kahar sepulang dari Mesir. Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terjadi korupsi.

Dari keluarga Abdul Kahar tercatat riwayat masa kecilnya dia jalani di Kotagede. Semasa sekolah dasar dia bersekolah di tempat yang saat ini bernama S