Berkaca dari Titi Wati, ‘Ngemil’ Jadi Faktor Utama Obesitas

SUARA JABAR SATU.COM | Jakarta – Ahli gizi Rita Ramayulis menilai kasus obesitas yang dialami Titi Wati, perempuan berbobot 220 kilogram asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tidak terjadi secara instan, melainkan butuh waktu bertahun-tahun. Menurut Rita, obesitas yang menimpa Titi terjadi akibat dari kebiasaan makan dan pola hidup tidak sehat.

“Menjadi gemuk tidak ada yang instan. Tidak ada orang yang tiba-tiba gemuk dalam hitungan hari atau minggu. Jadi orang gemuk itu sedikit demi sedikit tanpa dia sadari. Kasus (Titi Wati) ini sudah bukan lagi masalah diet tapi sudah gangguan organ dan memang harus ditangani secara medis,” kata Rita seperti dikutip Antara Minggu (13/1).

Ketua Asosiasi Sport Nutritionist Association (ISNA) itu mengatakan kebiasaan ngemil bisa menjadi faktor utama seseorang menjadi obesitas. Apalagi jika camilan terdiri dari minuman manis dan makanan yang berminyak.

“Alasannya, minuman manis itu kan kadar gulanya tinggi dan densitasnya tinggi. Coba kalau minum teh manis dengan gula dua sendok, itu tidak akan meninggalkan bekas di lambung tapi energinya bisa mencapai 100 kilo kalori, dibadingkan kalau kita makan timun 100 gram, masuk lambung dan lambung kita penuh, kenyang tapi energi nol karena densitas rendah,” katanya.

Kata dia, saat orang mengkonsumsi camilan yang lebih banyak mengandung gula tanpa melakukan gerakan tubuh untuk membakar kalori sesuai asupan energi maka orang tersebut bisa obesitas karena tumpukan lemak.

“Gula kalau tak terpakai pada akhirnya bisa berubah jadi jaringan lemak, tentunya lewat serangkaian tahapan. Jaringan lemak itu bisa menumpuk di bawah kulit (lemak subkutan), di lingkar pinggang (lemak sentral) dan lemak pada sekitar organ dalam perut (visceral). Ketika orang punya lemak yang berlebih dan tidak diperlukan tubuh maka akan mengganggu metabolisme dan mempengaruhi kerja hormon,” katanya.

Oleh sebab itu, dalam kasus Titi Wati, Rita menganggap perlu penanganan medis karena lemak di tubuh sudah mengganggu metabolisme.

Untuk menghindari obesitas, seseorang mesti memahami asupan yang masuk ke dalam tubuh. Termasuk saat menentukan camilan yang ingin dikonsumsi.

“Makan itu butuh pemahaman. Masalah gizi timbul saat orang tak paham dengan makanan. Begitu juga dengan camilan. Camilan pada dasarnya adalah mengkonsumsi makanan di antara makanan utama. Yang berbahaya dari ngemil adalah kepadatan energi yang ada di dalam makanan, semakin tinggi semakin bahaya,” ujar Rita.

 

Berkaca dari Obesitas Titi Wati, ‘Ngemil’ Titi Wati wanita berbobot 220 kg.

Rita menyarankan sebaiknya camilan melengkapi gizi yang belum sempat dikonsumsi pada makanan utama.

Misalnya, saat sarapan karena terburu-buru sehingga cuma makan yang mengandung karbohidrat dan protein. “Maka camilan yang kita pilih setelah sarapan sebaiknya kaya sayur dan buah.”

Tetapi, lanjutnya, ada orang-orang tertentu yang menganggap cemilan sebagai cara menyenangkan dan supaya punya aktivitas. “Kalau seperti ini maka pilih makanan yang harus dikunyah berkali-kali misalnya kacang, tapi jangan kacang yang digoreng, pilih kacang yang direbus,” ujapnya.

Jadi kesimpulannya adalah pilih camilan rendah gula dan tidak diproses dengan cara digoreng. Utamakan yang jenisnya protein, buah dan sayur, bukan karbohidrat dan tepung.

Saat ini Tim dokter RSUD Doris Sylvanus, Palangka Raya, tengah melakukan penanganan medis dan langkah operasi terhadap Titi Wati (37) yang menderita obesitas ekstrem.

Meski telah terbentuk tim, namun sampai sekarang ini belum diketahui kapan operasi dilakukan. Semula Titi diperkirakan memiliki berat badan 350 kilogram, namun setelah dilakukan penimbangan oleh pihak rumah sakit setempat beratnya hanya 220 kilogram. (cnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *